Rabu, 07 Mei 2014

PEMASANGAN NGT ( NASOGASTRIKTUBE)



          A.     DEFENISI
            Melakukan pemasangan selang (tube) dari rongga hidung ke lambung (gaster)
    B. TUJUAN
a.      Memasukkan makanan cair/obat-obatan, cair/padat yang dicairkan
b.      Mengeluarkan cairan/isi lambung dan gas yang ada dalam lambung
c.       Mengirigasi karena perdarahan/keracunan dalam lambung
d.     Mencegah/mengurangi nausea dan vomiting setelah pembedahan atau trauma
e.      Mengambil spesimen dalam lambung untuk studi laboratorium
        C. INDIKASI
1.      Pasien tidak sadar (koma)
2.     Pasien dengan masalah saluran pencernaan atas : stenosis esofagus, tumor mulut/faring/esofagus
3.      Pasien yang tidak mampu menelan
4.      Pasien pasca operasi pada mulut/faring/esofagus
  D. PERSIAPAN ALAT
1.      Selang NGT no.14/16 (untuk anak-anak lebih kecil ukurannya)
2.      Jelly
3.      Spatel lidah
4.      Handscoen steril
5.      Senter
6.      Spuit/alat suntik ukuran 50cc
7.      Plester
8.      Stetoskop
9.      Handuk
10.  Tissue
11.  bengkok
  E. PROSEDUR
1.      Mendekatkan alat ke samping klien
2.      Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan tujuannya
3.      Membantu klien pada posisi fowler/semi fowler
4.      Mencuci tangan
5.      Periksa kepatenan nasal. Minta pasien untuk bernapas melalui satu lubang hidung saat lubang yang lain tersumbat, ulangi pada lubang hidung yang lain, bersihkan mucus dan sekresi dari hidung dengan kassa/lidi kapas. Periksa adakah infeksi
6.      Memasang handuk diatas dada klien
7.      Buka kemasan steril NGT dan taruh dalam bak instrumen steril
8.      Memakai sarung tangan
9.    Mengukur panjang selang yang akan dimasukkan dengan cara menempatkan ujung selang dari hidung klien ke ujung telinga atas lalu dilanjutkan sampai processus xipodeus
10.  Beri tanda pada selang yang telah diukur dengan plester
11.  Beri jelly pada NGT sepanjang 10-20 cm dari ujung selang tersebut
12.  Meminta klien untuk rileks dan bernapas normal. Masukkan selang perlahan sepanjang 5-10cm. Meminta klien untuk menundukkan kepala (fleksi) sambil menelan.
13.  Masukkan selang sampai batas yang ditandai
14.  Jangan memasukkan selang secara paksa bila ada tahanan
a.      jika klien batuk, bersin, hentikan dahulu lalu ulangi lagi. Anjurkan klien untuk tarik napas dalam
b.      jika tetap ada tahanan, menarik selang perlahan-lahan dan masukkan ke hidung yang lain kemudian masukkan kembali secara perlahan
c.       jika klien terlihat akan muntah, menarik tube dan menginspeksi tenggorokan lalu melanjutkan memasukkan selang secara bertahap.
15.  Mengecek kepatenan
a.      Masukkan ujung pipa sampai dengan terendam dalam mangkok berisi air, klem dibuka jika ternyata sonde masuk dalam lambung maka ditandai dengan tidak adanyagelembung udara yang keluar
b.    Masukkan udara denga spuit 2-3 cc ke dalam lambung sambil mendengarkan dengan stetoskop. Bila terdengar bunyi kemudian udara dikeluarkan kembali dengan menarik spuit
16.  Pasang spuit/corong pada pangkal pipa apabila sudah yakin pipa masuk lambung
17.  Memfiksasi selang pada hidung dengan plester
1          18.  Membantu klien mengatur posisi yang nyaman
1          19.  Merapikan dan membereskan alat
2          20.  Melepas sarung tangan
2          21.  Mencuci tangan
2          22.  Mengevaluasi respon klien
2          23.  Pendokumentasian tindakan dan hasil.









Senin, 05 Mei 2014

Prosedur Pengambilan Analisa Gas Darah

A.  Definisi.
Analisa gas darah adalah salah satu tindakan pemeriksaan laboratorium yang ditujukan ketika dibutuhkan informasi yang berhubungan dengan keseimbangan asam basa pasien. Hal ini berhubungan untuk mengetahui keseimbangan asam basa tubuh yang dikontrol melalui tiga mekanisme, yaitu sistem buffer, sistem respiratori, dan sistem renal (Wilson, 1999).
Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan nama pemeriksaan “ASTRUP”, yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah arteri.
Tempat pengambilan darah arteri :
1.    Arteri Radialis, merupakan pilihan pertama yang paling aman dipakai untuk fungsi arteri kecuali terdapat banyak bekas tusukan atau haematoem juga apabila Allen test negatif.
2.    Arteri Dorsalis Pedis, merupakan pilihan kedua.
3.    Arteri Brachialis, merupakan pilihan ketiga karena lebih banyak resikonya bila terjadi obstruksi pembuluh darah.
4.    Arteri Femoralis, merupakan pilihan terakhir apabila pada semua arteri diatas tidak dapat diambil. Bila terdapat obstruksi pembuluh darah akan menghambat aliran darah ke seluruh tubuh/tungkai bawah dan bila yang dapat mengakibatkan berlangsung lama dapat menyebabkan kematian jaringan. Arteri femoralis berdekatan dengan vena besar, sehingga dapat terjadi percampuran antara darah vena dan arteri.
B.  Tujuan.
Analisa gas darah memiliki tujuan sebagai berikut (McCann, 2004):
1.  Mengetahui keseimbangan asam dan basa dalam tubuh.
2.  Mengevaluasi ventilasi melalui pengukuran pH, tekanan parsial oksigen arteri (PaO2), dan tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2).
3.  Mengetahui jumlah oksigen yang diedarkan oleh paru-paru melalui darah yang ditunjukkan melalui PaO2.
4.  Mengetahui kapasitas paru-paru dalam mengeliminasikan karbon dioksida yang ditunjukkan oleh PaCO2.
5.  Menganalisa isi oksigen dan pemenuhannya serta untuk mengetahui jumlah bikarbonat.
C.  Peralatan.
1.    Spuit gelas atau plastik 5 atau 10 ml.
2.    Botol heparin 10 ml, 1000 unit/ml (dosis-multi).
3.    Jarum nomor 22 atau 25 (bevel pendek).
4.    Penutup udara dari karet.
5.    Kapas alkohol.
6.    Wadah berisi es (baskom atau kantung plastik).
7.    Beri label untuk menulis status klinis pasien yang meliputi :
a.    Nama, tanggal dan waktu.
b.    Apakah menerima O2 dan bila ya berapa banyak dan dengan rute apa.
c.    Suhu.
D.  Persiapan Pasien.
1.    Jelaskan prosedur dan tujuan dari tindakan yang dilakukan.
2.    Jelaskan bahwa dalam prosedur pengambilan akan menimbulkan rasa sakit.
3.    Jelaskan komplikasi yang mungkin timbul.
4.    Jelaskan tentang allen’s test.
Caranya :
Minta klien untuk mengepalkan tangan dengan kuat, berikan tekanan langsung pada arteri radialis dan ulnaris, minta klien untuk membuka tangannya, lepaskan tekanan pada arteri, observasi warna jari-jari, ibu jari, dan tangan. Jari-jari dan tangan harus memerah dalam 15 detik, warna merah menunjukkan test allen’s positif. Apabila tekanan dilepas, tangan tetap pucat, menunjukkan test allen’s negatif. Jika pemeriksaan negatif, hindarkan tangan tersebut dan periksa tangan yang lain.
E.  Langkah-langkah Tindakan/Prosedur.
1.    Persiapan alat.
2.    Memberitahukan pasien tentang tujuan daripada pengambilan darah arteri yang akan di pungsi.
3.    Memilih arteri yang akan di pungsi.
4.    Menyiapkan posisi pasien :
a.    Arteri Radialisi :
-       Pasien tidur semi fowler dan tangan diluruskan.
-       Meraba arteri kalau perlu tangan boleh diganjal atau ditinggikan.
-       Arteri harus benar-benar teraba untuk memastikan lokalisasinya.
b.    Arteri Dorsalis Pedis.
-       Pasien boleh flat/fowler.
c.    Arteri Brachialis
-       Posisi pasien semi fowler, tangan di hyperekstensikan/diganjal dengan siku.
d.   Arteri Femoralis.
-       Posisi pasien flat.
5.    Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
6.    Raba kembali arteri untuk memastikan adanya pulsasi daerah yang akan ditusuk sesudah dibersihkan dengan kapas bethadine secara sirkuler. Setelah 30 detik kita ulangi dengan kapas alkohol dan tunggu hingga kering.
7.    Bila perlu obat anethesi lokal gunakan spuit 1 cc yang sudah diisi dengan obat (adrenalin 1 %), kemudian suntikan 0,2-0,3 cc intracutan dan sebelum obat dimasukkan terlebih dahulu aspirasi untuk mencegah masuknya obat ke dalam pembuluh darah.
8.    Lokalisasi arteri yang sudah dibersihkan difiksasi oleh tangan kiri dengan cara kulit diregangkan dengan kedua jari telunjuk dan jari tengah sehingga arteri yang akan ditusuk berada di antara 2 jari tersebut.
9.    Spuit yang sudah di heparinisasi pegang seperti memegang pensil dengan tangan kanan, jarum ditusukkan ke dalam arteri yang sudah di fiksasi tadi.
-       Pada arteri radialis posisi jarum 45 derajat.
-       Pada arteri brachialis posisi jarum 60 derajat.
-       Pada arteri femoralis posisi jarum 90 derajat.
Sehingga arteri ditusuk, tekanan arteri akan mendorong penghisap spuit sehingga darah dengan mudah akan mengisi spuit, tetapi kadang-kadang darah tidak langsung keluar. Kalau terpaksa dapat menghisapnya secara perlahan-lahan untuk mencegah hemolisis. Bila tusukan tidak berhasil jarum jangan langsung dicabut, tarik perlahan-lahan sampai ada dibawah kulit kemudian tusukan boleh diulangi lagi kearah denyutan.
10.     Sesudah darah diperoleh sebanyak 2 cc jarum kita cabut dan usahakan posisi pemompa spuit tetap untuk mencegah terhisapnya udara kedalam spuit dan segera gelembung udara dikeluarkan dari spuit.
11.     Ujung jarum segera ditutup dengan gabus / karet.
12.     Bekas tusukan pungsi arteri tekan dengan kapas alkohol campur dengan bethadine.
-       Pada arteri radialis dan dorsalis pedis selama 5 menit.
-       Pada arteri brachialis selama 7 – 10 menit.
-       Pada arteri femoralis selama 10 menit.
-       Jika pasien mendapat antikoagulan tekan selama 15 menit.
13.     Lokalisasi tusukan tutup dengan kassa + bethadine steril.
14.     Memberi etiket laboratorium dan mencantumkan nama pasien, ruangan, tanggal, dan jam pengambilan, suhu, dan jenis pemeriksaan.
15.     Bila pengiriman/pemeriksaannya jauh, darah dimasukkan kantong plastik yang diisi es supaya pemeriksaan tidak berpengaruh oleh suhu udara luar.
16.     Kembali mencuci tangan setelah selesai melakukan tindakan.
F.   Pendokumentasian.
Nilai normal Gas Darah Arteri
pH
7,35 – 7, 45
PO2
80 – 100 mmHg
Saturasi O2
≥ 95%
PC O2
35 – 45 mmHg
HCO3-
22 – 36 mEq/L
BE (kelebihan Asam)
-2 - +2
G. Komplikasi/Bahaya yang Mungkin Terjadi.
Komplikasi yang dapat terjadi pada tindakan ini, yaitu (McCann, 2004):
1.  Adanya risiko jarum mengenai periosteum tulang yang kemudian menyebabkan pasien mengalami kesakitan. Hal ini akibat dari terlalu menekan dalam memberikan injeksi.
2.  Adanya risiko jarum melewati dinding arteri yang berlainan.
3.  Adanya kemungkinan arterial spasme sehingga darah tidak mau mengalir masuk ke syringe.